Ekonomi Digital, Ekonomi Bual?

Oleh: Rinorsa Duane Agusta, Ilmu Ekonomi 2017, Staf Departemen Kajian dan Penelitian HIMIESPA 2018

Pada 12 Februari 2018, GO-JEK kembali mendapatkan suntikan dana dari dua perusahaan besar. Sebelumnya, startup ini memperoleh investasi sebesar 16 triliun rupiah dari Alphabet Inc.dan perusahaan multinasional lainnya (REPUBLIKA.co.id, 2018). Kali ini, investasi datang dari perusahaan nasional yaitu Astra International dan Grup Djarum (TribunLampung.co.id, 2018). Dengan nilai valuasi mencapai 53 triliun rupiah, perusahaan digital ini dapat dikategorikan sebagai unicorn (startup bervaluasi lebih dari satu miliar USD) (TribunLampung.co.id, 2018). Selain GO-JEK, terdapat tiga perusahaan Indonesia lain yang dikategorikan sebagai unicorn. Perusahaan tersebut yaitu Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Merujuk pada fakta tersebut, dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki daya tarik investasi sektor digital yang cukup tinggi, dibuktikan dengan keempat startup tersebut merupakan perusahaan berbasis digital. Selain itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) mencatat bahwa nilai investasi luar terhadap ekonomi digital di Indonesia mencapai 4,8 miliar USD pada tahun 2017 (TheJakartaPost, 2018). Nilai ini melampaui nilai investasi asing pada sektor pertambangan sebesar 4,4 miliar USD (KATADATA, 2018). Padahal, pertambangan merupakan salah satu sektor dengan nilai investasi asing tertinggi.

Adanya daya tarik terhadap ekonomi digital memberikan indikasi bahwa Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan ekonomi digitalnya. Namun, di sisi lain, Indonesia masih memiliki beberapa hambatan untuk mengembangkan sektor potensial ini. Padahal, apabila ekonomi digital dapat dikembangkan lebih jauh dapat memberikan dampak positif terhadap indikator ekonomi lain.

Digitalisasi melalui Teknologi

Istilah ekonomi digital dapat diartikan sebagai konvergensi teknologi komputasi dan komunikasi serta aliran informasi yang dihasilkan, dalam merangsang perubahan aspek ekonomi (Lane, 1999). Artikel yang dimuat Deloitte menyatakan bahwa hiperkonektivitas yang mumpuni diperlukan untuk menopang hal tersebut. Hiperkonektivitas mengandung arti bahwa individu, organisasi, dan mesin terhubung melalui seperangkat teknologi digital. Oleh karena itu, keberadaan dan pemanfaatan teknologi merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk dapat mengembangkan ekonomi digitalnya.

Menurut International Data Corporation (IDC) (2017), terdapat empat teknologi pilar yang menjadi indikator kesuksesan ekonomi digital. Pertama adalah keberadaan Big Data dan AnalyticsBig Data merupakan sekumpulan data yang diperoleh dari berbagai macam perangkat yang terhubung melalui internet. Perangkat seperti peralatan rumah tangga (kulkas, microwave) dapat mengirimkan sejumlah informasi yang kemudian dikumpulkan menjadi himpunan data. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan jaringan hubungan ini yaitu Internet of Things (IOT). Melalui IOT, lebih banyak data yang dapat terkumpul sehingga data menjadi lebih komprehensif.

Kedua yaitu teknologi cloud. Teknologi ini dapat diaplikasikan pada sistem komputerisasi (cloud computing) dan penyimpanan (cloud storage). Melalui cloud computing, proses komputerisasi yang kompleks dapat dilakukan dari jarak jauh (remote). Selain itu, data tidak perlu lagi disimpan secara fisik di tempat tertentu sehingga dapat diakses melalui jaringan internet.

Teknologi pilar yang ketiga adalah mobilitas. Keberadaan perangkat portabel seperti laptopsmartphone, dan wearable devices memberikan kemudahan bagi orang untuk mengakses internet  di mana saja dan kapan saja. Dengan demikian, individu sebagai user dapat terhubung ke sistem secara terus-menerus.

Terakhir, melalui teknologi sosial, konektivitas yang baik antara organisasi dengan pihak luar serta lingkungan internalnya dapat tercipta. Dampaknya adalah aliran informasi akan berjalan dengan baik sehingga, jika dibutuhkan, tindakan atau keputusan dapat dilaksanakan dengan cepat dan tepat.

Keempat teknologi pilar di atas bersifat saling melengkapi. Artinya, keberadaan teknologi yang satu dapat menopang keberadaan teknologi yang lain. Keempatnya bekerja secara sinergis menciptakan sistem digital yang mumpuni. Oleh karena itu, kombinasi keempat teknologi pilar tersebut merupakan kunci utama untuk mengakselerasi perkembangkan ekonomi digital di Indonesia (McKinsey, 2016).

Potensi Digital Indonesia

Berdasarkan indikator-indikator di atas, Indonesia telah memiliki fondasi untuk mengembangkan ekonomi digital. Hal ini ditandai dengan kehadiran revolusi digital serta pertumbuhannya di Indonesia (McKinsey, 2016). Pertama, pada tahun 2014, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 72,7 juta penduduk dan pada tahun 2015, terjadi peningkatan pengguna internet sebesar 21,18% menjadi 88,1 juta penduduk. Jika dibandingkan, baik dari segi jumlah maupun pertumbuhan pengguna internet, Indonesia masih lebih unggul dibandingkan dengan negara seperti Malaysia dan Thailand. Berdasarkan data dari internetlivestats (n.d.), pada tahun 2014, jumlah pengguna internet di Malaysia sebanyak 20,1 juta penduduk sedangkan di Thailand sebanyak 23,6 juta penduduk. Kemudian, pada tahun 2015, jumlah pengguna internet di Malaysia meningkat sebesar 2,2% menjadi 20,6 juta penduduk sedangkan di Thailand meningkat sebesar 15,8% menjadi 27,3 juta penduduk.

Dari angka pengguna internet Indonesia pada tahun 2014, sebanyak 75,65% akses internet dilakukan melalui mobile internet. Pada tahun berikutnya, pengaksesan mobile internet tetap mendominasi bahkan terjadi peningkatan dari 75,65% menjadi 76,05%. Mobile internet yang mendominasi menunjukkan bahwa masyarakat di Indonesia terhubung ke internet secara intensif, mengingat bahwa aspek portabilitas mampu memberikan kemudahan dalam pengaksesan internet. Dampaknya, intensifitas hubungan terhadap jaringan tersebut mampu menciptakan hiperkonektivitas yang baik di Indonesia.

Selanjutnya adalah pendapatan teknologi cloud yang tumbuh. Pengukurannya dihitung berdasarkan nilai total pendapatan vendor jasa cloud yang ada di Indonesia. Data dari tahun 2014 hingga 2015 menunjukkan bahwa pendapatan yang dihasilkan dari teknologi ini tumbuh sebesar 22%. Pada tahun 2014, total pendapatan vendor jasa cloud di Indonesia bernilai sebesar 269 juta USD. Angka ini tumbuh menjadi 364 USD pada tahun 2015. Tumbuhnya pendapatan teknologi cloud menunjukkan bahwa penggunaannya pun turut meningkat di Indonesia.

Indikator potensi Indonesia yang ketiga ditinjau dari sisi big data dan analytics. Perkembangan pada teknologi ini ditunjukkan dari adanya peningkatan pada aliran informasi yang dikirim oleh berbagai macam perangkat. Informasi tersebut dikumpulkan dalam bentuk data dengan satuan petabyte (1 petabyte = 1.000.000gigabyte). Di Indonesia sendiri, terjadi peningkatan aliran data digital sebesar 62% antara tahun 2014 dan 2015. Volume aliran data sebesar 277 petabyte pada tahun 2014 meningkat menjadi 448 petabyte pada tahun 2015. Peningkatan pada aliran data ini disebabkan oleh indikator yang terakhir, yaitu teknologi Internet of Things(IOT). Keberadaan Internet of Things (IOT) di Indonesia dapat telusuri dari jumlah perangkat yang terhubung ke internet. Jika data tahun 2014 hingga 2015 ditelusuri, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan jumlah perangkat yang terhubung ke internet sebesar 35% , dari 32 juta unit menjadi 39 juta unit. Dampaknya dalah semakin banyak data dapat terkumpul dari perangkat yang terhubung tersebut. Hal inilah yang menyebabkan aliran data di Indonesia meningkat dari tahun 2014 ke 2015.

Berdasarkan paparan data di atas, dapat disimpulkan bahwa teknologi digital di Indonesia mengalami perkembangan, baik dari segi ketersediaan maupun penggunaannya. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia telah memiliki fondasi untuk mengembangkan ekonomi digital. Lebih dari itu, potensi digitalisasi Indonesia juga didukung dari segi penggunaan. Utamanya, dari segi perdagangan elektronik (e-commerce). Menurut data dari Kompas (2016), nilai total transaksi e-commerce di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 20 miliar USD. Angka ini meningkat sebesar 53,8% dari tahun 2014 dengan nilai 13 miliar USD. Bahkan, angka ini diprediksi sebesar 130 miliar USD pada tahun 2020.

Dampak Digitalisasi terhadap Indikator Ekonomi Indonesia

Potensi ekonomi digital di Indonesia merupakan hal yang penting untuk digali lebih jauh. Pasalnya, perkembangan potensi ini mampu memberikan dampak positif terhadap indikator ekonomi lain, salah satunya adalah tingkat produktivitas. Menurut The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) (2016), ekonomi digital berpotensi untuk meningkatkan produktivitas, penghasilan, serta kesejahteraan sosial. Ekonomi digital memungkinkan proses produksi berjalan lebih efektif dan efisien. Dampaknya, komoditas dapat dihasilkan lebih banyak menggunakan biaya yang lebih sedikit. Proyeksi dari McKinsey (2016) menunjukkan bahwa digitalisasi mampu meningkatkan tingkat produktivitas Indonesia di berbagai sektor. Peningkatan ini diperkirakan mampu memberikan dampak sebesar 121,4 miliar USD pada tahun 2025. Melalui teknologi digital, aspek yang terkait dengan produktivitas pada tiap sektor mampu ditingkatkan. Aspek tersebut meliputi optimisasi operasi, kesehatan manusia dan produktivitas, serta perkembangan produk dan penjualan.

Selain itu, adanya digitalisasi pada platform daring juga dapat menyerap populasi nonproduktif di Indonesia(McKinsey, 2016). Jika dikombinasikan, maka teknologi digital dapat memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 150 miliar USD pada tahun 2025(McKinsey, 2016).

Hambatan dan Tantangan yang Dihadapi Indonesia

Indonesia memang memiliki potensi untuk mendigitalisasi perekonomiannya. Namun, di sisi lain, masih terdapat beberapa hal yang menghambat perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Salah satu faktor yang menghambat adalah masalah pada infrastruktur (McKinsey, 2016). Data yang diperoleh dari McKinsey(2016) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki internet bandwidth yang lebih rendah dibandingkan dengan negara lain seperti Hongkong, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Selain itu, rata-rata kecepatan internet di Indonesia juga relatif lebih lambat dibandingkan dengan negara-negara tersebut. Padahal, kedua infrastruktur ini sangat diperlukan untuk menciptakan akses internet yang baik.

Selanjutnya, tingkat penetrasi internet yang rendah juga menjadi faktor yang  menghambat berkembangnya ekonomi digital di Indonesia. Data pada tahun 2016 menunjukkan bahwa tingkat penetrasi internet di Indonesia sebesar 34%, masih rendah dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand (McKinsey, 2016). Rendahnya tingkat penetrasi Indonesia dibandingkan negara lain menunjukkan bahwa akses internet masih belum dirasakan sebagian besar orang. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi (2013), persebaran internet di Indonesia masih berpusat di daerah perkotaan. Pada tahun 2014, dari 88,1 juta pengguna internet di Indonesia, 52 juta diantaranya berada di daerah Jawa-Bali (Eka, 2015). Artinya, 64,1% akses internet hanya dirasakan oleh pengguna dari daerah tersebut. Oleh karena itu, selain pengembangan dari sisi teknologi digital, Indonesia juga perlu meningkatkan akses internet yang lebih merata. Dengan demikian, manfaat dari digitalisasi dapat dirasakan oleh semua kalangan.

Potensi ekonomi digital di Indonesia bukanlah hal yang bual belaka. Potensi dengan daya tarik investasi yang tinggi ini perlu dimanfaatkan dengan baik. Caranya, dengan memanfaatkan sekaligus mengembangkan fondasi teknologi yang telah ada. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktifitas maupun menyerap tenaga kerja nonporduktif. Jika pemanfaatan ini dapat terlaksana dengan baik, maka akan memberikan dampak positif terhadap indikator ekonomi lain di Indonesia. Syaratnya, masalah yang menjadi penghambat perlu dibenahi. Masalah infrastruktur teknologi, user, serta pemerataan akses menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Dengan begitu, potensi ekonomi digital di Indonesia tidak akan hanya menjadi omong kosong.

Referensi

Deloitte. (n.d.). What is digital economy? Dipetik March 5, 2018, dari Deloitte: https://www2.deloitte.com/mt/en/pages/technology/articles/mt-what-is-digital-economy.html

Eka, R. (2015, April 24). Pemanfaatan Internet di Indonesia Berdasakan Data APJII Tahun 2014. Dipetik March 8, 2018, dari DailySocialid: https://dailysocial.id/post/pengguna-internet-indonesia

International Data Corporation. (2017). Excellence in the Digital Economy: A Blueprint for Success. Dipetik March 4, 2018, dari IDC:

https://www.idc.com/promo/thirdplatform/RESOURCES/ATTACHMENTS/DXBlueprint.pdf

internetlivestats. (n.d.). internetlivestats. Dipetik March 20, 2018, dari Thailand Internet Users: http://www.internetlivestats.com/internet-users/thailand/

internetlivestats. (n.d.). Malaysia Internet Users. Dipetik March 20, 2018, dari internetlivestats: http://www.internetlivestats.com/internet-users/malaysia/

KATADATA. (2018, February). Inilah 10 Sektor dengan Investasi Asing Tertinggi pada 2017. Dipetik March 20, 2018, dari KATADATA: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/02/01/inilah-10-sektor-dengan-investasi-asing-tertinggi-2017

Lane. (1999, October). Advancing the Digital Economy into the 21st Century. Information Systems Frontiers, 1(3), 317-320. Dipetik March 7, 2018, dari https://link.springer.com/article/10.1023%2FA%3A1010010630396

McKinsey. (2016). Unlocking Indonesia’s digital opportunity. McKinsey&Company.

REPUBLIKA.co.id. (2018, February 13). Alirkan Dana Triliunan, Siapa Saja Investor Raksasa Gojek? Dipetik March 2, 2018, dari REPUBLIKA.co.id: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/02/13/p42hwd415-alirkan-dana-triliunan-siapa-saja-investor-raksasa-gojek#

suaramerdeka.com. (2013, November 22). Pengguna Internet Didominasi Penduduk Perkotaan. Dipetik March 8, 2018, dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia: https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3538/Pengguna+Internet+Didominasi+Penduduk+Perkotaan/0/sorotan_media

The Organisation for Economic Co-operation and Development. (2016). New Markets and New Jobs in the Digital Economy. Jobs and Skills in The Digital Economy. Cancun: OECD. Dipetik March 6, 2018, dari https://www.oecd.org/internet/ministerial/meeting/New-Markets-and-New-Jobs-discussion-paper.pdf

TheJakartaPost. (2018, January 31). Indonesia records $4.8 billion investment in digital economy. Dipetik March 4, 2018, dari TheJakartaPost: http://www.thejakartapost.com/news/2018/01/31/indonesia-records-4-8-billion-investment-in-digital-economy.html

TribunLampung.co.id. (2018, February 13). Wow, Nilai Valuasi Go-Jek Mencapai Rp 53 Triliun. Dipetik March 2, 2018, dari TribunLampung.co.id: http://lampung.tribunnews.com/2018/02/13/wow-nilai-valuasi-go-jek-mencapai-rp-53-triliun

 

Comments